Kampanye Pencegahan HIV/AIDS Bagi Kelompok Berisiko Tinggi

Ragam81 Dilihat

Jakarta – Tingginya temuan kasus HIV/AIDS akibat hubungan seksual berisiko menjadi perhatian sejumlah pihak di Indonesia. Kampanye pencegahan HIV/AIDS dengan menyasar kelompok berisiko tinggi perlu terus digencarkan.

Selain mengajak masyarakat menghindari perilaku seks tidak aman, upaya lain yang perlu dilakukan adalah mempromosikan pentingnya kondom pada hubungan seksual yang berisiko. Menggunakan kondom adalah salah satu cara mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS bagi mereka yang sering berganti-ganti pasangan seks.

AIDS Healthcare Foundation (AHF), sebuah organisasi AIDS internasional mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan atas perilaku seksual yang berisiko tertular HIV. Melalui kegiatan bertajuk “Always in Fashion”, AHF Indonesia menggelar kampanye pencegahan HIV/AIDS dengan menyasar kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS di Triple Nine Bar and Lounge Jakarta, Jumat (22/2) lalu.

Acara yang bertepatan dengan International Condom Day (ICD) 2019 ini dilakukan untuk memberi edukasi tentang HIV/AIDS dan tes HIV, yang dikemas dengan acara hiburan, terutama bagi komunitas penikmat hiburan malam. Sebagai daya tarik acara ini akan menghadirkan perpaduan edukasi pencegahan HIV/AIDS dan entertaining event melalui DJ dan dancing performers. Acara yang dihadiri ratusan pengunjung ini digelar melalui kerja sama dengan sejumlah mitra kerja AHF Indonesia yaitu Yayasan Karisma, PKBI Jakarta dan Yayasan Layak.

“Kami melihat sebagian masyarakat masih ada yang berperilaku berisiko dengan sering membeli seks atau berganti-ganti pasangan seksual. Pada mereka kami ingin ingatkan agar selalu menggunakan pengaman seperti kondom. Tapi hal ini harus dilakukan tepat sasaran,” ujar Riki Febrian, Country Program Manager AHF Indonesia.

Lebih jauh, Riki juga mengingatkan bahwa tidak berhubungan seks yang berisiko harus tetap dikedepankan. “Tentu saja, sebaiknya masyarakat tidak berperilaku seks berisiko. Setia pada pasangan. Itu yang utama,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan RI mencatat, sejak pertama kali dilaporkan tahun 1987 hingga September 2018, jumlah kumulatif infeksi HIV di Indonesia mencapai 314.143 kasus dan jumlah AIDS mencapai 111.973 kasus. Kasus HIV/AIDS saat ini telah dilaporkan oleh 458 dari 514 kabupaten/ kota di Indonesia.

Data Kemenkes RI juga menunjukkan, dalam 8 tahun terakhir, hubungan seksual berisiko di kalangan heteroseksual secara kumulatif menjadi faktor tertinggi penularan HIV/AIDS, hingga mencapai 35 %. Angka ini jauh melebihi faktor risiko di kalangan pengguna narkoba suntik yang mencapai 6 %.

Terri Ford, AHF Chief of Global Policy and Advocacy mengatakan, kondom tetap menjadi pilihan termurah dan terbaik dalam pencegahan HIV dan penyakit menular seksual, apalagi bila dihubungkan dengan pencegahan kehamilan.

“ICD juga membantu mengingatkan masyarakat bahwa krisis HIV terjadi di seluruh belahan dunia. Membuat orang terlibat melalui kampanye Always in Fashion adalah langkah besar dalam meningkatkan kesadaran dan melawan epidemi ini,” ujarnya.

Sementara itu, AHF President, Michael Weinstein menambahkan, promosi perilaku seks tak berisiko menjadi sangat penting saat ini.

“Kekurangan pendanaan, termasuk pendanaan kondom, membuat situasi jadi kritis jika kita ingin menyebarkan pesan bagaimana hidup sehat dan bebas dari penyakit, khususnya di negara-negara dengan angka prevalensi HIV yang tinggi,” ujar Michael. (*)

The post Kampanye Pencegahan HIV/AIDS Bagi Kelompok Berisiko Tinggi appeared first on LIPUTAN.CO.ID.

Komentar