Menyuluh untuk Menanamkan Rasa Cinta Pertanian

Nasional62 Dilihat

JAKARTA—Perkembangan teknologi dewasa ini membuat masyarakat lebih mudah dalam mengakses informasi melalui internet, tak terkecuali dengan dunia pertanian. Berbagai informasi mengenai pertanian bisa didapatkan melalui teknologi internet.

Namun nyatanya belum semua masyarakat mampu mengikuti perkembangan teknologi, seperti masyarakat yang tinggal di daerah cukup terpencil. Abigael Lomo, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di Kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dengan wilayah binaan Desa Sumberjo, Kecamatan Wonomulyo ini menjadi perantara petani yang belum mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan memberikan informasi seputar pertanian.

Namun ada kegiatan lain yang cukup menarik perhatian. Wanita yang akrab disapa Abby ini mengajarkan pertanian. Menanamkan rasa cinta pada dunia pertanian sejak dini. Cara memperoleh informasi seputar pertanian melalui internet pun diajarkan Abby ke anak-anak ini. Selain supaya anak-anak di desa ini mampu mengikuti perkembangan teknologi dan mempermudah mendapatkan informasi seputar pertanian, juga mereka dapat mengajarkan pada orangtuanya yang juga petani.

Abby melihat, profesi PPL begitu asing di telinga anak-anak SD di Pedalaman Ratte, Kecamatan Masanda, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Alasan tersebut membuat Abby berinisiatif mengikuti Kelas Inspirasi sebagai “Relawan” untuk memperkenalkan profesi Penyuluh Pertanian Lapang di SDN 179 Ratte.

“Selain memperkenalkan, saya juga mengarahkan mereka bagaimana cara memperoleh pekerjaan tersebut. Tentunya mereka harus tamat SD terlebih dahulu, kemudian mereka melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun,” terangnya.

Bukan hanya itu, Abby yang sudah hampir 15 tahun menjadi penyuluh pertanian ini juga mengajarkan anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama ini cara menanam dalam polybag dan membuat arang sekam. “Kegiatannya rutin dilakukan. Selama satu semester tiap minggu. Tidak dibayar, Saya yang menawarkan diri,” ujarnya.

Jangan salah, kegiatan yang diajarkan ke anak-anak ini masih banyak. Sebut saja, cara membuat pupuk bokasih, mengolah lahan (membuat bedengan), menanam sayuran (kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, dan lainnya) di bedengan dan polybag. Mereka juga diajarkan cara membuat pestisida nabati. “Kalau yang masih TK, baru diperkenalkan agens hayati lewat penyuluhan dan lanjut bikin objeknya (kumbang koksinella, burung hantu, dan lainnya),” katanya.

Bangunkan Kelompok yang Tertidur

Abby yang memiliki tugas utama membina petani di Desa Sumberjo, membina kelompok tani untuk pengembangan modal kelompok. “Waktu pertama kali ke pedalaman Tondo Pata, keadaan kelompok tani tidak aktif, sanggar-sanggar tani terbengkalai, bahkan ada yang tidak punya sanggar tani,” terangnya.

Ia menjelaskan, setelah dirinya bertugas di tempat tersebut, menurut anggota kelompok, keadaan berubah drastis. Pertemuan kelompok tani aktif setiap bulan, adanya simpan pinjam di kelompok, demonstrasi-demonstrasi pembuatan pestisida nabati, pupuk organik bokashi, arang sekam dan kelompok sudah menjual bibit lada dan kakao sambung pucuk.

Bahkan menurut Abby, masyarakat di atas Gunung Alapan bisa dihimpun membuat satu kelompok tani. PPL sebelumnya belum pernah ada menjangkau mereka, karena terlalu jauh menerobos hutan lindung. Namun akhirnya, PT. Bumi Surya mau bermitra dengan kelompok tani karena manajemen sudah bagus dan aktif.

Ketekunan yang Abby jalani, membuatnya memperoleh banyak penghargaan seperti Terbaik I PPL Teladan Sukarela 2013 dan PNS berprestasi 2018 tingkat Kabupaten Polewali Mandar. Semoga menanam cinta pertanian yang Abby bangun tumbuh untuk kemajuan pembangunan pertanian. *

The post Menyuluh untuk Menanamkan Rasa Cinta Pertanian appeared first on LIPUTAN.CO.ID.

Komentar