Fahri Hamzah Serahkan Blueprint Implementasi Reformasi DPR RI

Ragam2 Dilihat

Jakarta – Rapat Paripurna DPR RI yang dipimpin Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyetujui laporan yang disampaikan Ketua Tim Implementasi Reformasi DPR RI Fahri Hamzah. Dalam kesempatan tersebut, Fahri menyerahkan Blueprint Implementasi Reformasi DPR RI beserta lampiran enam paket Rancangan Undang-Undang (RUU) Lembaga Perwakilan.

“Saya atas nama Ketua Tim Implementasi Reformasi menyerahkan buku Blueprint Implementasi Reformasi DPR RI beserta lampiran enam paket RUU Lembaga Perwakilan untuk diteruskan dan ditindaklanjuti oleh Anggota DPR RI periode 2019 – 2024,” kata Fahri, di Gedung Parlemen, Senayan – Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Dalam laporannya, Fahri menjelaskan bahwa Tim Implementasi Reformasi DPR RI dibentuk dengan Surat Keputusan Nomor 12/DPR RI/II/2014-2015 tanggal 9 Februari 2015 berdasarkan hasil Rapat Paripurna DPR RI tanggal 9 Februari 2015. Anggota Tim berasal dari seluruh fraksi di DPR RI dan langsung bekerja sejak hari pertama dilantik dengan melakukan penguatan DPR, tidak hanya terkait kelembagaan tetapi juga sistem kerja dalam melakukan artikulasi dan agredasi kepentingan rakyat.

“Anggota Dewan akan diberikan dua buah dokumen, dokumen pertama adalah dokumen blueprint Reformasi DPR RI yang diserahkan kepada Ketua DPR untuk diteruskan kepada Sekretariat Jenderal DPR RI dan kepemimpinan Anggota DPR yang akan datang sebagai hadiah dari Anggota Dewan periode yang sekarang ini,” ujarnya.

Sedangkan dokumen yang kedua lanjut Fahri, adalah enam draf RUU yang merupakan alat bagi sebuah pembentukkan kelembagaan Parlemen Modern di masa yang akan datang. Wakil Ketua DPR RI koordinator bidang kesejateraan rakyat (Korkesra) itu menjelaskan, enam draf tersebut terdiri dari empat RUU pecahan dari UU MD3, yakni RUU MPR, RUU DPR, RUU DPD, dan RUU DPRD. Sedangkan RUU yang kelima adalah RUU tentang Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan, dan yang terakhir RUU tentang Etika Anggota Lembaga Perwakilan.

“Tim ini dibentuk dengan nama Tim Implementasi Reformasi DPR RI. Disebut implementasi karena kita menyadari bahwa di dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MD3 yang lahir dalam periode sebelumnya telah mengandung unsur-unsur reformasi DPR. Di antara unsur Reformasi DPR itu adalah terjadinya penguatan yang sangat signifikan, tidak saja kepada Anggota DPR beserta seluruh staf bawaannya sebagai Political Appointee, tetapi juga penguatan bagi sistem pendukung,” tutur Fahri.

Dikatakan Fahri, penguatan Political Appointee adalah kepada lembaga yang sifatnya tidak permanen. Namun ada sistem pendukung yang sifatnya permanen, dalam hal ini terbentuknya Badan Keahlian DPR yang mendampingi Setjen DPR sebagai pendukung dan dapur pemikiran.

“Keduanya menjadi pekerjaan rumah kita ke depan adalah membangun Pusat Pendidikan Legislatif. Selama ini di Indonesia tidak ada Pusat Pendidikan Legislatif. Oleh karenanya ada keharusan untuk kita membuat Pusat Pendidikan Legislatif agar seluruh Anggota legislatif di seluruh Indonesia bisa di training sebagai wakil rakyat,” ujarnya.

Ditegaskannya, ada dua pekerjaan rumah ke depan yang terdapat dalam rencana yang ada di dalam RUU bagi keanggotaan Dewan yang akan datang, yakni kemandirian kamar legislatif yang hingga kini belum tercapai secara penuh, dan masalah pembangunan kawasan Parlemen.

“Seharusnya parlemen disertai dengan tempat-tempat untuk menyatakan aspirasi rakyat. DPR juga seharusnya mempunyai visitor center yang baik yang mengelola perpustakaan besar dan mengelola museum yang akan menjadi perlambang bagi sejarah bangsa untuk mengingat sejarah dan tradisi demokrasi bangsa ini, selain pusat-pusat kegiatan lainnya yang merupakan pusat kegiatan masyarakat,” imbuhnya.

The post Fahri Hamzah Serahkan Blueprint Implementasi Reformasi DPR RI appeared first on LIPUTAN.CO.ID.

Komentar