Menyelamatkan Pabrik Gula Berbasis Tebu

Nasional54 Dilihat

Target memenuhi kebutuhan gula konsumsi dengan produksi dalam negeri sebanyak 2,8 juta ton sepertinya akan cepat terealisasi. Ada tambahan sepuluh Pabrik Gula (PG) baru yang akan menambah produksi gula di Indonesia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) produksi gula nasional berdasarkan hasil giling tahun 2018 sebesar 2,1 juta ton sedangkan untuk tahun 2019 berdasarkan hasil taksasi Maret bahwa produksi gula nasional sebesar 2,5 juta ton.

“Dengan kondisi sekarang produksi gula kita masih terdapat selisih sekitar 300 ribu ton bila dibandingkan dengan hasil taksasi Maret 2019. Kita sudah punya tambahan sepuluh pabrik gula baru, kekurangan 300 ribu ton ini akan kita tutupi dari sepuluh pabrik gula baru,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono saat dikonfirmasi di Kantor Pusat Kementan, Jum’at, (27/9)

Kasdi menyampaikan bahwa diperlukan upaya untuk mencapai swasembada gula konsumsi yaitu dengan sinergi antara Off-farm dan On-Farm pada PG yang ada. Pada segi off-farm bahwa kita mengetahui industri gula nasional saat ini seakan terbagi dua, di mana terdapat dikotomi PG yaitu pabrik tradisional milik BUMN PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PG modern milik swasta. PG berbasis tebu di Indonesia terdapat 62 unit pabrik dengan rincian 50 unit dikelola BUMN dan 12 pabrik swasta.

Kondisi PG di Indonesia saat ini sebagian besar sudah termakan usia terutama PG BUMN yang banyak peninggalan zaman kolonial Belanda. PG BUMN ini terombang ambing bersaing dengan Pabrik Gula swasta dengan segala teknologi terbaru yang digunakan.
“Kita sedang berupaya untuk menarik banyak investor yang terjun di pergulaan ini, dan kita juga sedang berupaya untuk meningkatkan performa PG yang sudah termakan usia dengan beberapa cara seperti revitalisasi dan memerger PG,” tutur Kasdi.

Revitalisasi ini artinya memperbaiki kondisi dan kualitas pabrik gula agar bisa menghasilkan gula yang berkualitas yang juga berimbas pada kesejahteraan petani. Bahan baku penggilingan gula bersumber pada hasil tanam tebu petani, petani akan bangkit jika pabrik juga memberikan jaminan kesejahteraan dalam hal ini rendemen.

Kasdi pun menerangkan bahwa restrukturisasi permesinan dengan memperbaiki mesin dan peralatan industri gula yang sudah ada saat ini, guna menambah kapasitas giling serta memperbaiki kekuatan peras mesin sehingga dapat meningkatkan rendemen. Dampak dari peremajaan ini akan menambah volume produksi semua pabrik, sehingga gula yang dihasilkan semakin banyak, kebutuhan gula dalam negeri dapat terpenuhi.

Upaya untuk merger PG dilakukan dengan maksud untuk mengabungkan beberapa PG menjadi satu PG dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan efisiensi biaya operasional.

“Dengan demikian kita juga tak butuh biaya mahal mengawasi fenomena rembesan gula industri ke pasar. Kita sedang mengurangi inefisiensi pada pabrik gula di Indonesia. Ini yang mengakibatkan produksi tidak bisa memenuhi kebutuhan produksi gula dalam negeri. Kita akan selamatkan PG berbasis tebu yang kita miliki,” ujar Kasdi.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Derektorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Agus Wahyudi saat dikonfirmasi bahwa merger PG merupakan upaya kita untuk pembenahan industri gula. Sampai saat ini salah satu PG BUMN yang sudah melakukan merger adalah PG Rajawali II (RII) yang semula memiliki empat yaitu PG Jatitujuh, PG Subang, PG Tersana Baru dan PG Sindang Laut. Hasil merger PG Jatitujuh dan PG Subang memjadi PG Hak Guna Usaha (HGU) dan PG Tebu Rakyat (TR) hasil merger PG Sindang Laut dan PG Tersana Baru.

Agus juga menegaskan bahwa selain memperbaiki permesinan dari PG yang sudah ada, perbaikan pun perlu dari segi On-Farm luas areal. Luas areal tebu dari tahun ke tahun mengalami penurunan, tahun 2016 luas areal tebu sebesar 440.733,0 ha, menjadi 425.617,0 ha di tahun 2017 menurun 3,4% dibanding 2016. Begitu pula luas areal tebu pada tahun 2018 menurun lagi menjadi 414.846,5 ha atau berkurang 2,5% dibandingkan tahun 2017.

“Kita akan geser perluasan areal di luar Jawa, hal ini dikarenakan perluasan areal di Jawa sudah tidak memungkinkan. Pelaksanaan pengembangan perkebunan tebupun harua teintegrasi dengan PG baru yang ada di luar pulau jawa,” ujar Agus.

Secara keseluruhan total potensi perluasan areal plasma dari sepuluh pabrik gula baru yaitu 103.900 ha yang diantaranya enam pabrik gula baru berlokasi di luar Jawa dengan potensi areal plasma sebesar 63,5 % atau seluas 66.000 ha. Dengan rata-rata produktivitas untuk enam pabrik gula di luar Jawa tersebut sebesar 7,7 ton gula/ha, maka total pertambahan produksi gula yang akan didapat oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dengan adanya pengembangan areal plasma di luar Jawa sebesar 508.200 ton.

“Diharapkan dengan segala upaya yang dilakukan Kementan saat ini dan seluruh elemen pendukung, mampu menyelematkan bahkan membangkit kejayaan Pabrik Gula berbasis Tebu kembali,” tutup Agus.

The post Menyelamatkan Pabrik Gula Berbasis Tebu appeared first on LIPUTAN.CO.ID.

Komentar