Kota Cirebon – Sambut Ramadan 1442 Hijriah, Keraton Kasepuhan Cirebon menabuh bedug. Tradisi menabuh bedug ini dinamakan tradisi Drugdag. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari zaman Walisanga dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Sore hari atau usai salat Asar sebelum memasuki Ramadan, bedug yang terletak di Langgar Agung Keraton Kasepuhan ditabuh dengan keras selama kurang lebih satu jam secara bergantian. Itu menandakan para warga merasa gembira menyambut bulan suci, terlebih diberi usia dan kesehatan dalam menjalani ibadah puasa.

Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin mengatakan, pemukulan bedug sebagai tanda bahwa nanti malam sudah memasuki bulan Ramadan melaksanakan salat Tarawih dan umat Islam menjalankan ibadah puasa.

“Makna bedug ini adalah kita menyambut bulan Ramadan dengan gembira. Yang insya Allah akan dibalas dengan pahala dan surga,” katanya pada Senin (12/4/21).

Namun tradisi tersebut pada tahun ini belum bisa dilaksanakan pihak keraton. Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Luqman Zulkaedin melalui Jumhur, selaku penghulu Keraton Kasepuhan Cirebon menjelaskan hal tersebut dikarenakan pihaknya menunggu keputusan dari pemerintah.

“Pihak Keraton Kasepuhan sampai sore hari ini masih menunggu pengumuman dari Menteri Agama RI. Karena pada saat ini baru tanggal 29 dimana bulan Sya’ban kan sampai tanggal 30. Sehingga kami tetap mengikuti pengumuman dari Menteri Agama RI,” ungkap Jumhur.

Jumhur menjelaskan, sejarah Drugdag tersebut dimana pada jaman dahulu belum ada pengeras suara sehingga sebagai tanda bahwa akan memasuki bulan suci Ramadah yaitu dengan menabuh bedug. Begitu juga bedug ditabuh ketika akan mengakhiri bulan Ramadan.

“Ada 3 jenis pemukulan bedug, dimana semua pukulannya memiliki makna masing-masing,” ungkapnya.(JS).

Loading...