Gelar Simposium, BMTI Batam Serukan Tolereansi Perdamaian Dunia Melalui Budaya

Loading...

BATAM – Bariisan Muda Tionghoa Indonesia ( BMT ) Batam, Kespulauann Riau, kemarin selama dua hari menggelar Simposium yang menghadirkan berbagai tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, seniman serta aktifis dan pelajar dari bebegai daerah di dalam negeri maupun dari luar negeri.

Kegiatan yang mengusung pada arah persatuan, kesatuan, toleransi dan Bhinekka Tunggal Ikka itu dengan nama Simposium Internasional Keharmonisan Budaya 2019 dengan menghadirkan berbagai pakar sejarah, sosial, budaya dan ketatanegaraan dari berbagai negara, antara lain Singapore, Thaiwan , Macau, Hong Kong, Singapore , Thailand dan Malaysia.

Hadir dari Indonesia yang juga menjadi Nara sumber, adalah Guru Besar Antropologi UIN Jakrat, Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.si , HRM Wawasan Open University Penang Malaysia, Dr. Balakrishnan Muniapan, kemudian dari International Islamic University Malaya Malaysia, Orof. Dr. Hasllina Ibrahim , Ketua Umum Leabumi PBNU, KH. Agus Sunyoto, ada juga Dr. Kuo HSIUNG LIN dari National Chiao Tung University Taiwan, Dr. Tee Boo Chuan dari University of Tunku Abdul Rahman Malaysia, KH UKI Marzuki sekjen Leabumi PBNU, juga ada Prof. Jaffar Kassim .

Selain itu simposium juga diisi oleh Prabu Diaz Panglima Tinggi Laskar Macan Ali Nuswantara Kesultanan Cirebon, PROF. Mgr. Andrianus Sunarko OFM dari Harmoni Indonesia, hadir pula Prof. Masya Dr. Muh. Alinor B. Abdul Kadir dari Malaysia, Wawan Gunawan M.Ud peneliti dari Jakatarub Nasional Bandung dan Dr. Caranjit Kaur A/P Darshan Singh dari university Abdul Rahman Malaya.

 

Selain itu simpoisum ini juga dihadiri oleh para akademisi dan budayawan serta pengusaha seperti Dr. Thor Lam Huat dari LK Industri SDN Bhd Singapore, Prof.Wangkun dari Confucius Descendants Assiciation of Singapore, Marga Tan, Marga Ang dan tokoh masyarakat Batam serta ormas OKP di Kepulauan Riau.

Menurut Prabu Diaz, Simposium tersebut yang digelar tanggal 5-6 Oktober 2019 ini menghasilkan sebuah kesimpulann bahwa budaya ternyata menjadi jembatan toleransi dan keharmonisan hubungan antar bangsa yang terjalin sejak berabad-abad lalu. Bahkan bisa terjadi sejak jaman prasejarah.

” Barisan Muda Tionghoa Indonesia ( BMTI ) Batam, menggelar Simposium ini tampaknya ingin mengupas tentang kebenaran budaya menjadi kendaraan persaudaraan dan hubungan antar bangsa selain melalui perdagangan dan bisnis. Ini sebuah kegiatan yang baru dan sangat berani sekali digelar oleh BMTI. Harusnya simpsium ini digelar oleh Pemerintah Pusat di Jakarta,” ujar Prabu Diaz kepada Wartawan saat tiba di Bandara International Kertajati Majalengka, kemarin.

Lebih lanjut dikatakan Prabu Diaz, bahwa dilihat dari maksud diselenggaran nya Simposium itu, ternyata masih ada pemuda Indonesia yang memikirkan pentingnya budaya untuk perdamaian dengan mengacu pada toleransi antar agama maupun etnis di dunia. Teebuti pula hampir seribuan peserta dari berbagi kalangan mahasiswa, pelajar, pengusaha, tokoh masyarakat hadir memenuhi gedung acara di Swissbell hotel Batam.

” Inti dari semua rangkaian kegiatan Simposium Internasional di Batam ini adalah BMTI selaku penyelenggara, para Nara sumber simposium, semua peserta dan berbagai kalangan menyerukan dijaganya Perdamaian Dunia melalui Budaya yang bertoleransi serta kebersamaan antar agama maupun suku bangsa. Dari Batam kami berseru kepada dunia khusunya Indonesia bahwa kami cinta perdamaian,” ujar Prabu Diaz yang juga dari Forum Kebangsaan dan kebinekaan Nasional Indonesia.
( Ary)