Jenderal Lapangan Dibalik Sukses Doa Perdamaian Cirebon

Loading...

Sebuah kegiatan Doa Perdamaian untuk NKRI yang diikuti oleh seluruh umat antar agama di kota Cirebon, Sabtu kemarin berjalan Sukses. Berbagai pihak menyatakan kekagumannya rangkaian acara yang dikemas dengan adat budaya daerah serta kesakralan kesultanan Cirebon.

Doa perdamaian ini adalah doa yang di ikuti oleh tokoh dan umat Islam, Hindu, Budha , Katolik dan Protestan yang ada di Cirebon. Dimana masing-masing tokoh agama membaca doa dengan cara dan mengenakan busana khas keagamaannya.

Menurut juru bicara panitia, Halim bahwa doa perdamaian yang diikuti oleh lima agama di Indonesia ini intinya agar bangsa ini tetap damai sejahtera, harmonis dan tetap menjaga kerukunan baik antar agama maupun etnis dalam balutan ke Bhinekaan Tunggal Ikka yang berdasarkan Pancasila.

” Kita semua juga berdoa agar Pemilu 17 April 2019 ini berjalan dengan sukses luber dan jurdil. Dimana bangsa ini akan memilih Pemimpin terbaik untuk 5 tahun mendatang. Tidak ada keributan dan pergesekan yang akan merugikan masyarakat,” ujar Halim yg juga aktifis sosial dari PSMTI Cirebon.

Doa perdamaian yang menghebohkan ini dilaksanakan tepat 26 hari menjelak Pileg dan Pilpres atau beberapa hari menjelang kampanye terbuka. Kenapa dibilang menghebohkan ? Karena selain melibatkan semua tokoh dan umat beragama dan komunitas keagamaan seperti PHDI, PGIS, Pastur, Suster paroki, para pendeta, biksu, komunitas PSMTI, XTC , FPLH Caruban dan DPC GM FKPPI kota Cirebon, juga adanya dukungan dari para Sultan di Cirebon serta Laskar Agung Macan Ali Nuswantara.

Acara dimulai pukul 08.00 dari Keraton Kacirebonan yang dilepas oleh Sultan Kacirebonan Pangeran Abdulgani Natadiningrat, diawali dengan Drum Band dari Akademi Maritim Cirebon, kemudian Barongsai dari PPS Kelabang, dilanjutkan dengan Hadro dari Pesantren Assalafiah Nur Rohmat Karang Suwung dan hadro asuhan Ustad Nur.

Kelompok inti lainnya diawali dengan keluarnya dwaja Kesultanan Cirebon yaitu Dwaja Macan Ali yang dikawal oleh 13 orang laskar khusus Macan Ali di ikuti oleh kirab para Kiyai, Pastur, Pendeta Kristen , Bikshu, pendeta Hindu dan Pastur serta suster paroki. Kirab dipimpin oleh Sayyid Self Alwi Ba’alawi dari Karawang dan diikuti oleh umat beragama di Cirebon, ada etnis Tionghoa , Bali, Sunda, Kalimantan dan dikawal ketat oleh ratusan Laskar Agung Macan Ali Nuswantara serta GM FKPPI kota Cirebon.

Kirab umat beragama sejauh 1,5 km dari Keraton Kacirebonan sampai Keraton Kasepuhan berakhir di Gedung agung Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon dan diterima langsung oleh Gusti Sultan Sepuh XIV Cirebon, PRA Arief Natadiningrat SE beserta Wakil Walikota Cirebon ibu Etty Herawati.

Suksesnya doa perdamaian dari semua unsur agama maupun kesultanan Cirebon dan melibatkan berbagai komponen masyarakat pastinya tidak lepas dari seorang” sutradara” atau penanggungjawab seluruh rangkaian acara termasuk keamanan dan kenyamanan rangkaian acara yang di setting setiap menitnya, yaitu Prabu Diaz seorang Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nuswantara Kesultanan Cirebon.

Saat mencoba mewawancarainya, Prabu Diaz tampak menghindar dan enggan untuk diajak berbincang mengenai keterlibatannya dalam acara sakral tersebut. Semua pertanyaan dijawab dengan no comment atau mempersilahkan untuk menemui juru bicara panitia.

Namun demikian akhirnya Prabu Diaz berkenan bercerita peran nya dibalik layar dalam acara tersebut. Kami diberi kesempatan bertemu dan sedikit berbincang di Markas Besar Laskar Macan Ali di alun-alun timur Keraton Kasepuhan Cirebon.

” Jujur kami merasa prihatin sekali melihat kondisi negara saat ini, apalagi menjelang pileg dan pilpres ini. Tampak banyak pihak yg sudah tidak menunjukan akhlak dan adab dalam kehidupan manusia. Semua mau benar dan menang sendiri saja tanpa mengindahkan moral maupun etika. Banyak tokoh nasional dan tokoh pemuka agama sudah tidak memandang santun, mencaci maki, berteriak dan menghina. Kami sedih dan prihatin,” ujar Prabu Diaz yang suka dijuluki Jenderal Lapangan.

menurut Diaz, dasar itulah yang membuat dia beserta laskar Agung Macan Ali di Seluruh Indonesa menyambut baik ide dari para tokoh masyarakat yang ingin menggelar doa perdamaian. Kemudian dirancanglah sebuah skenario yang melibatkan seluruh unsur agama, etnis, budayawan dan seniman dilakukan doa perdamaian dengan kirab dan dikemas seni budaya lokal melibatkan unsur kesultanan.

Hal itu didukung penuh oleh para Sultan di Cirebon, baik Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Bahkan fasilitas Keraton digunakan untuk aksi tersebut tanpa merusak atau melanggar adat istiadat kelungguhan.

” Saya hanya membantu teman dan para sedulur yang punya niat baik dan murni untuk keharmonisan bangsa ini. Sebab menurut saya perbedaan itu indah dan damai itu nyaman. Saya beserta seluruh Laskar Macan Ali se Indonesia akan menjaga NKRi yang ber- Bhinekka Tunggal Ikka dan ber- Pancasila dengan segala perbedaan yang ada,” ujar Prabu Diaz yang juga Presiden Komisaris PT. KMN pendiri Koperasi Gerage Sukses Mandiri dan pengasuh HAyy Aplikasi Online Dakwah Anak Bangsa.

( Keysa )

Loading...