Oleh sebab itu Siswoyo dan massa yg datang meminta Muslimin untuk menurunkan atribut dan simbol kesultanan karena semuanya palsu. Para Laskar meminta 3 X 24 jam harus sudah bersih termasuk penurunan papan nama yang bertuliskan Kerajaan Caruban Nagari. Apabila tidak dikakukan, massa yang hadir akan melaporkan kepada aparat yang berwajib.

Sementara itu Ahli naskah Cirebon R. Mas Nanang Bae kepada kilascirebon.com di tempat terpisah mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada Kerajaan atau kesultanan bernama Caruban Nagari. Itu sudah kebohongan publik dan memalsukan sejarah, itu bisa jadi masalah hukum dan harus diluruskan.

Begitu Juga menurut pakar sejarah lokal Muchtar Zaedin bahwa setelah runtuhnya Pajajaran yang tersisa hanya Kesultanan Cirebon dan Banten. ” Tidak ada kerajaan Caruban Nagari. Yang ada adalah kitab naskah babad yang bernama Purwaka Caruban Nagari ditulis sekitar abad 16 M. Jadi wajar saja jika masyarakat dan keluarga kesultanan marah terhadap Muslimin, ” ujar Muchtar Zaidin.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh DR. Tendy Charesky dari UI yg banyak meneliti tentang sejarah Cirebon bahwa dari sumber manapun termasuk cerita rakyat dan legenda bahwa tidak ada Kerajaan Caruban Nagari. Itu sudah sangat menyimpang jauh dan menyesatkan. Sah saja jika masyarakat menggugat karena merasa dibohongi dan dibodohi. ” Untung tidak sampai terjadi anarkis dalam pengepungan tersebut. Semoga yang bersangkutan memahami kekeliruannya,” ujarnya.
(Bedila)

Loading...