Jakarta, Liputan.co.id – Delegasi DPR RI ikut berbagi pandangan pada sesi General Debate yang dihelat Inter-Parliamentary Union (IPU) pada 16-17 Oktober, di Saint Petersburg, Rusia.

Di depan delegasi dari 173 negara, Rofi’ Munawar mewakili Delegasi Indonesia menyampaikan keragaman dan kebhinnekaan yang menjadi bagian dari denyut nadi Indonesia.

“Tak terbantahkan lagi bahwa Indonesia salah satu negara yang paling beragam di dunia. Indonesia adalah rumah bagi lebih 300 suku dengan 1.300 sub-suku, yang 95 presennya merupakan suku asli yang tersebar di sekitar 17.000 pulau. Oleh sebab itu, kebhinnekaan dan keragaman budaya merupakan darah daging kami,” kata Rofi’ lewat rilisnya, Selasa (17/10/2017).

Lebih lanjut, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI itu menegaskan komitmen Indonesia untuk merawat keragaman dan kebhinnekaan tersebut.

“Kendatipun kami berbeda, kami hidup rukun dan damai atas dasar semangat Bhinneka Tunggal Ika. Kami percaya bahwa semua agama dan keyakinan mengajarkan kedamaian dan empati antar-sesama. Kami mengakui, ada beberapa pihak yang terus menebar kebencian dan kekerasan yang memicu saling curiga dan salah pengertian antar-pengikut agama. Itu murni aksi individual tak berkaitan dengan agama dan keyakinan apapun,” tegas dia.

Di sesi yang bertema Promoting Cultural Plurality and Peace through Inter-Faith and Inter-Ethnic Dialogue tersebut, Rofi’ menawarkan enam rencana aksi untuk mewujudkan kedamaian dan saling pengertian antar-agama dan budaya serta solidaritas.

“Kami menawarkan enam langkah, pertama, mendorong semua pemuka agama untuk menegaskan secara nurani pentingnya menjaga kebhinnekaan, toleransi, dan harmonitas. Kedua, mendorong pendidikan yang lebih inklusif di semua tingkatan,” ujarnya.

Ketiga lanjutnya, memerangi kemiskinan dengan memberikan jaminan hak yang setara dan kesempatan ekonomi khususnya bagi minoritas. Keempat, mendorong masyarakat luas untuk terus menghidupkan iklim dialog antar-agama dan antar-budaya dengan tetap melaksanakan secara komitmen ajaran agamanya masing-masing.

“Kelima, mengidentifikasi akar masalah ekstremitas agama sekaligus menanganinya dengan baik dan seksama, dan keenam, mendorong media untuk berperan positif dalam mereduksi segala bentuk diskriminasi dan anti-toleransi,” ungkap Rofi’.

Anggota Komisi VII DPR RI itu juga percaya bahwa IPU sebagai forum parlemen dunia memiliki kapasitas untuk mendorong kerja sama dalam memerangi segala bentuk diskriminasi dan anti-toleransi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here