Cegah Radikalisme, KBRI Singapura Adakan Dialog Kebangsaan: Hakekat Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas 2025

Ragam2 Dilihat

​Singapura – Di dalam kemajemukan yang sangat beragam di Indonesia, Pancasila telah dan harus selalu menjadi jangkar pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi, demikian benang merah dialog kebangsaan yang diselenggarakan KBRI Singapura (5/10). Dialog kebangsaan ini juga diadakan untuk membentengi WNI di Singapura dari radikalisme. Dalam era digital dan keterbukaan informasi, penting bagi warga negara Indonesia di Singapura, khususnya pekerja migran Indonesia (PMI), untuk memahami informasi yang diterima sehingga tidak terjerumus ke hal – hal negatif seperti radikalisme.

KBRI kembali lagi selenggarakan rangkaian dialog kebangsaan yang kali ini bertemakan “Memperkuat Hakekat Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas 2025” dengan menghadirkan Prof. Yudi Latif dan Duta Besar RI untuk Singapura, Bapak Ngurah Swajaya sebagai pembicara utama. Dialog yang dihadiri sekitar 200 perwakilan masyarakat Indonesia di Singapura dipandu oleh Noor Huda, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian.

“Dalam dinamika politik, sosial dan ekonomi yang begitu cepat akibat perkembangan pesat tekonologi informasi, perlu diperkuat pemahaman masyarakat Indonesia mengenai jati diri bangsa dan jangkar ideologi pemersatu bangsa dalam meneruskan cita-cita para pendiri bangsa, termasuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” demikian disampaikan oleh Dubes Ngurah Swajaya.

Untuk mengisi kemerdekaan yang telah diproklamirkan 74 tahun yang lalu, penting bagi semua elemen bangsa, khususnya yang bermukim di Singapura untuk memahami esensi kemerdekaan, bagaimana mengisi kemerdekaan di bidang masing-masing untuk berkontribusi kepada persatuan bangsa dan negara menuju perwujudan Indonesia Emas 2045.

“Tantangan utama bagi Indinesia yang memiliki Negara yang luas dan majemuk adalah untuk menyatukan”, ujar Prof. Yudi Latief. Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan ideologi yang tidak hanya menjadi simbol, tetapi dipahami dan direalisasikan sebagai instrumen pemersatu bangsa Indonesia.

Berpikir dan berbuat positif, memperkuat interaksi (engagement) menjalin persahabatan (relationship), membuat makna yang lebih berarti bagi kebersamaan (meaningful) dan mencapai tujuan bersama merupakan cara-cara praktis mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menghadapi tantangan yang sangat dinamis.

Membangun kebanggaan nasional (national pride) akan memperkuat semangat menyatukan bangsa yang majemuk, seperti Indonesia, dalam mewujudkan tujuan negara, termasuk dalam mewujudkan NKRI yang lebih maju, sejahtera, stabil dan dihormati pada saat usia Indonesia mencapai 100 tahun tahun 2045 (Indonesia Emas).

Dalam sesi tanya jawab, para peserta mengapresiasi kegiatan KBRI Singapura dan pencerahan mengenai aktualisasi Pancasila dalam kehidupan pribadi maupun bernegara yang dipaparkan Prof. Dr. Yudi Latif. Pancasila akan bermakna, termasuk sebagai jangkar penguatan persatuan dan kesatuan, apabila tidak semata-mata dipahami sebagai simbol, melainkan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada sesi penutupan, Dubes Ngurah Swajaya menyerahkan cinderamata dan Buku mengenai 10 New Bali sebagai destinasi baru kunjungan wisata dan investasi ke Indonesia, sementara Prof. Dr. Yudi Latif menyampaikan buku “Mata Air Keteladanan” tulisan Prof. Yudi Latif yang memuat keteladanan tokoh nasional pendiri bangsa dari berbagai elemen dan profesi dalam mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. (kemlu)

The post Cegah Radikalisme, KBRI Singapura Adakan Dialog Kebangsaan: Hakekat Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas 2025 appeared first on LIPUTAN.CO.ID.

Komentar