Cirebon. – Safari Mahkota Banokasih keliling Jawa Barat dengan menyambangi 8 kota yg diawali dari Sumedang dan berakhir di Kota Cirebon dengan kemasan budaya kirab Agung Milangkala Tatar Sunda, terbilang sangat sukses dan mengangkat Jawa Barat di tingkat Nasional menjadi Propinsi yg menjunjung tinggi adat, tradisi, budaya dan marwah leluhur.
Walaupun di beberapa kota seperti Bogor, dimana pekerja Jurnalistik kecewa dengan para pengawal KDM dan Cirebon ternyata juga merasakan hal sama, namun secara garis besar kirab tersebut, menjadi fenomena dan kegiatan yg dihadiri puluhan ribu masyarakat di setiap daerah yg di singgahinya.
Di kota Cirebon sebagai kota terakhir yg disinggahi Muhibah Mahkota Binokasih yg selama ini yang disemayamkan di Sumedang, Jawa Barat, tidak kalah dengan kota lain nya, belasan ribu masyarakat tumpah ruah berjejer di tepi jalan yg dilintasi oleh kirab budaya Milangkala Tatar Sunda dan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat , Kang Dedi Mulyadi atau KDM dengan menaiki kuda.
Sukses nya Kirab Mahkota Binokasih di Cirebon, sudah bukan rahasia umum bahwa salah satunya adalah keterlibatan Laskar Agung Macan Ali Nuswantara ( LMA ) yg mengerahkan sekitar 472 anggotanya yg dipimpin oleh Panglima Tinggi nya, Prabu Diaz dengan didampingi oleh Panglima LMA Bogor, Futipar ( Kang Fu ) sebagai kordinator Komando Lapangan didampingi oleh Panglima LMA Jakarta Timur, Bekasi Utara, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Wilayah Cirebon Barat, Utara dan Timur .
Ratusan Laskar Macan Ali yang berada di lapangan dari mulai start sampai Finish di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, selain melakukan pengamanan, pendampingan dan LO (Liaison Officer ) dari panitia tingkat Propinsi Jawa Barat maupun Pemkot Cirebon, juga menyiapkan sarana dan prasarana serta tempat Check point untuk VVIP.
Menurut beberapa sumber, semua dilakukan oleh Kaskar Macan Ali tanpa anggaran dari Pemprop maupun panitia Milangkala.
Apakah Prabu Diaz Kecewa ?
Ketika ditemui oleh Wartawan di Markas Besar LMA di Cirebon, Prabu Diaz mengaku tidak kecewa, semua dilakukan dwngan keikhlasan karena membawa nama baik Cirebon selaku tuan rumah. Menurutnya apa yang dilakukan adalah sebuah kewajiban sebagai masyarakat berkarya dan mengabdi pada kota nya sendiri.
” Semua kegiatan kami tidak berorientasi pada materi, apa yang kami lakukan penuh keikhlasan untuk kota kami sendiri. Kami tanpa tendensi apapun, apalagi yang berorientasi pada politik atau bisnis. Tidak ada di Laskar Macan Ali berpikiran itu, ” Ujar Prabu Diaz Panglima Tinggi Laskar Macan Ali Nuswantara yang juga Sekretaris Jenderal Forum Lingkungan Hidup dan Budaya Nuswantara.
Ketika disinggung bahwa KDM tidak mampir ke Markas Laskar Macan Ali, Prabu Diaz juga tidak kecewa, padahal rencananya akan memberikan Lukias Tangan Dwaja Caruban Nagari atau juga dikenal dengan nama Dwaja Macan Ali yg dulu disebut Umbul – umbul waring yang tersimpan di sebuah museum di Belanda. Namun karena KDM hanya lewat, Lukisan Dwaja tersebut sampai sekarang tersimpan di Markas Macan Ali.
” Saya sedang berupaya minta dijembatani oleh bapak Walikota Cirebon, maupun Kepala BKD dan Kepala Dinkes Prop. Jawa Barat, untuk menyampaikan kepada bapak Gubernur KDM, berkenan menerima nya. Kita tunggu apakah pak KDM berkenan atau tidaknya. Jika tidak berkenan juga tidak apa- apa, kami tidak.kecewa, sebab kan beliau sangat sibuk mengurusi puluhan juta masyarakat Jawa Barat ,” ujar Prabu Diaz.
Walau mengaku tidak kecewa, kita lihat apakah akhirnya akan kecewa apabila Lukisan Dwaja nya tidak di terima oleh KDM ?
(Ucuk )




