Bubur Suro, Tradisi Syukur Keraton Kasepuhan Cirebon Sambut Bulan Muharram

CIREBON – Keluarga besar Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram dengan pembuatan Bubur Suro atau Bubur Asyura. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Langgar Alit Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu (28/6/2026).

Tradisi yang sarat nilai budaya dan religi ini dipimpin oleh Kyai Jumhur selaku Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa bersama masyarakat sekitar Keraton Kasepuhan Cirebon. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Muharram sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus upaya menjaga warisan budaya dan nilai spiritual para leluhur.

Dalam kesempatan tersebut, Kyai Jumhur menyampaikan bahwa tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki makna sejarah yang sangat penting dalam perjalanan umat Islam.

Menurutnya, Hari Asyura menjadi pengingat atas berbagai peristiwa besar para nabi. Salah satunya adalah kisah Nabi Nuh AS yang diselamatkan Allah SWT setelah kapal yang membawa beliau dan pengikutnya berlabuh di Gunung Judiy usai banjir besar melanda bumi. Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan tersebut, Nabi Nuh AS bersama umatnya melakukan ibadah puasa.

“Selain peristiwa Nabi Nuh AS, tanggal 10 Muharram juga menjadi saksi berbagai peristiwa besar lainnya, seperti diterimanya tobat Nabi Adam AS, diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari api, serta bebasnya Nabi Yusuf AS dari penjara,” ujar Kyai Jumhur.

Dalam kegiatan tersebut, Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon PR Goemelar Soeryadingrat didampingi Patih Anom PR Nusantara menyampaikan bulan Muharram merupakan bulan yang memiliki banyak kemuliaan, sehingga berbagai tradisi dan adat terus dilestarikan.

“Alhamdulillah hari ini keluarga besar Keraton Kasepuhan melaksanakan kegiatan menyambut Tahun Baru Islam. Bubur Suro ini merupakan simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk berbagi kepada sesama,” ujar PR Goemelar Soeryadingrat.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Muharram di Keraton Kasepuhan telah dimulai sejak malam satu Sura, dilanjutkan dengan doa bersama, santunan anak yatim, pagelaran wayang kulit, kirab budaya, hingga jamasan pusaka peninggalan leluhur.

Menurutnya, Bubur Suro memiliki makna filosofis sebagai pengingat pentingnya rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
“Intinya adalah berbagi. Karena rasa syukur itu diwujudkan dengan kepedulian kepada masyarakat dan sesama, termasuk berbagi dengan anak yatim,” tambahnya.

Sementara itu, Patih Anom PR Nusantara menegaskan bahwa pelestarian tradisi di tengah perkembangan zaman menjadi bagian penting agar generasi muda tetap mengenal sejarah, budaya, serta nilai spiritual yang diwariskan para leluhur.

“Walaupun zaman sudah maju dan memasuki era digital, kita tetap harus menghargai perjalanan sejarah, para nabi, wali, serta leluhur yang telah meninggalkan nilai-nilai kebaikan,” tuturnya.

Melalui tradisi Bubur Suro di bulan Muharram ini, keluarga besar Keraton Kasepuhan berharap masyarakat mendapatkan keberkahan, keselamatan dunia dan akhirat, serta senantiasa diberikan ampunan dan perlindungan oleh Allah SWT.