Keamanan Lingkungan Kerja, Budaya yang Jadi Standar PT. Dharma Electrindo Mfg

Kilas Cirebon6 Dilihat

CIREBON – Di tengah pesatnya pertumbuhan industri di wilayah Ciayumajakuning, PT Dharma Electrindo Manufacturing (PT DEM) membuktikan bahwa aspek keamanan bukan sekadar pelengkap regulasi. Perusahaan produsen kabel kelistrikan kendaraan ini menempatkan keamanan sebagai nilai inti organisasi yang menjadi fondasi bagi produktivitas dan kesejahteraan karyawan.

Berdasarkan wawancara dengan Albert Ary Bonifer (Department Head HRD-GA) dan Krisna Yudhisthira (Section Head GA-IR), langkah ini selaras dengan pandangan para ahli bahwa nilai organisasi bukan sekadar slogan, melainkan pedoman perilaku yang perlu diadopsi agar organisasi mampu berkembang dan beradaptasi dalam jangka panjang (Bourne & Jenkins, 2013). PT DEM menerapkan fokus keamanan yang komprehensif dalam dua ranah utama.

Dalam ranah keamanan lingkungan kerja, PT DEM menempatkan aspek security sebagai pilar strategis dalam budaya organisasi yang dikelola secara komprehensif oleh departemen GA-IR. Sistem ini berjalan secara utuh melalui tahapan preventif dalam perencanaan dan pengawasan akses area kerja untuk melindungi integritas aset, tahap operasional dalam mengimplementasikan prosedur keamanan guna menjaga ketertiban fasilitas, serta tahap responsif dalam penanganan cepat terhadap potensi gangguan. Pendekatan ini merupakan sistem manajemen terpadu untuk memastikan setiap elemen di pabrik terjaga dengan baik, yang secara langsung memperkuat stabilitas hubungan industrial serta kepercayaan karyawan terhadap perusahaan.

Di sisi lain, aspek teknis keselamatan operasional dikelola secara ketat oleh divisi Safety, Health, and Environment (SHE). Perusahaan menjalankan standar operasional seperti penggunaan Automated Guided Vehicle (AGV) untuk meminimalisir risiko angkut material berat, penyediaan jalur evakuasi, hingga sistem pemadam kebakaran. Sinergi antara sistem keamanan lingkungan di bawah departemen GA-IR dengan standar keselamatan kerja dari divisi SHE ini mencerminkan komitmen terhadap etika perusahaan yang memengaruhi hubungan baik internal maupun eksternal (Finegan & Theriault, 1997; Voss et al., 2000).

Keamanan di PT DEM tidak berhenti pada aspek fisik. Perusahaan juga membangun keamanan psikologis karyawan melalui ruang aspirasi Serikat Pekerja dan whistleblowing system yang menjamin kerahasiaan pelapor. Stabilitas hubungan kerja yang terjaga ini sejalan dengan teori bahwa nilai organisasi yang kuat dapat meningkatkan komitmen karyawan (Ostroff et al., 2005). Budaya disiplin pun diperkuat melalui induction training serta tradisi Rishou—tradisi menyapa karyawan setiap pagi—yang mempererat komunikasi antara pimpinan dan staf. Praktik ini berpadu dengan prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), yang menciptakan lingkungan kerja yang tertib, bersih, dan produktif.

Pengalaman PT DEM menunjukkan bahwa investasi pada manusia adalah investasi masa depan. Ketika pekerja merasa aman secara fisik maupun psikologis, mereka akan bekerja dengan lebih fokus, kreatif, dan loyal. Pendekatan ini membuktikan bahwa nilai keamanan yang diwujudkan melalui kebijakan, kepemimpinan, dan budaya adalah kunci membangun organisasi yang kompetitif di tengah tantangan bisnis yang dinamis.

Tulisan ini disusun oleh: Galih Dwi Hardiansyah, Suci Susilawati, Rucita Rani Ridwan Saputri, Leni Amelia, Khotibul Umam, Muhammad Rifky, Hafiz Taufikul Zain, Fahmi Pratama, Surya Fatir Muhamad, Mochamad Bintang dengan dosen pembimbing Dr. Aang Curatman, S.P., M.Si, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon.